Studi Ungkap: Deforestasi Picu Nyamuk Lebih ‘Haus Darah’ Manusia, Risiko Penyakit Meningkat!

Sebuah studi baru-baru ini menyoroti bahwa berkurangnya hutan atau deforestasi dan punahnya satwa liar secara signifikan membuat nyamuk semakin ‘haus darah’ manusia. Kondisi ini meningkatkan ketergantungan nyamuk pada darah manusia, yang pada gilirannya memperbesar risiko penularan penyakit menular.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers ini menjelaskan bahwa hilangnya habitat alami mendorong nyamuk untuk lebih sering menggigit manusia. Hal ini memperbesar peran mereka dalam penyebaran penyakit mematikan seperti Zika, demam kuning, dan demam berdarah.

Menurut penelitian, deforestasi dan berbagai aktivitas manusia lainnya telah secara drastis mengurangi populasi tumbuhan dan hewan lokal di banyak wilayah. Di sisi lain, populasi manusia di daerah-daerah tersebut terus meningkat.

Laura Harrington, seorang profesor entomologi dari Cornell University, menjelaskan, “Nyamuk yang biasanya memakan inang lain di habitat tertentu dapat beralih ke manusia jika habitat tersebut tidak lagi cocok untuk inang-inang tersebut dan mereka pergi.”

Studi awal menunjukkan bahwa darah manusia secara luas ditemukan pada sembilan jenis nyamuk di dua wilayah yang sebelumnya jarang berpenghuni di negara bagian Rio de Janeiro, Brasil. Wilayah ini dulunya merupakan bagian dari Hutan Atlantik yang luas, namun kini telah menyusut drastis akibat deforestasi dan pembangunan.

Para peneliti mengacu pada studi sebelumnya yang membuktikan bahwa wilayah dengan deforestasi parah cenderung memiliki populasi nyamuk yang lebih tinggi dan tingkat penyakit yang ditularkan nyamuk yang juga lebih tinggi. Hal ini karena habitat yang terganggu lebih menguntungkan spesies nyamuk yang berkembang biak di dekat manusia. Bersamaan dengan itu, penurunan keanekaragaman hayati menghilangkan hewan yang seharusnya dapat mengurangi penularan penyakit, sehingga manusia menjadi sumber darah utama bagi nyamuk.

Sérgio Lisboa Machado, salah satu penulis studi dan profesor di Universitas Federal Rio de Janeiro, Brasil, menekankan bahwa nyamuk adalah serangga oportunis yang tidak akan menjelajah jauh untuk mencari makanan. “Jadi mereka mulai mencari manusia karena nyamuk jarang terbang sejauh itu. Mereka tidak akan menghabiskan banyak energi untuk mencari (sumber makanan lain),” kata Lisboa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 17 persen dari semua penyakit menular disebabkan oleh penyakit yang ditularkan melalui vektor (organisme hidup seperti nyamuk, kutu, dan lalat). Serangga pengisap darah ini bertanggung jawab atas lebih dari 700.000 kematian di seluruh dunia. Nyamuk sendiri mampu menularkan puluhan penyakit serius kepada manusia, menjadikannya hewan paling mematikan di Bumi.

Penyebab utama ‘nafsu darah’ ini adalah nyamuk betina. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa nyamuk betina harus mengisap darah untuk mendapatkan protein dan zat besi yang diperlukan untuk mengembangkan telurnya. “Ada dorongan reproduksi yang membuat mereka memakan darah, dan jika tidak ada inang lain, kebanyakan nyamuk akan memakan darah manusia,” jelas Harrington.

Nyamuk jantan tidak menggigit, melainkan memakan nektar dan gula tumbuhan. Harrington menambahkan bahwa dari 3.500 spesies nyamuk di seluruh dunia, hanya sedikit yang secara spesifik lebih menyukai darah manusia dibandingkan darah hewan lain. “Ini adalah hal yang sudah kita ketahui sejak lama. Ide bahwa memanipulasi lanskap dapat mengubah pola makan nyamuk dan terkadang memindahkan pola makan tersebut ke arah manusia,” tutup Harrington.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *