Gawat Darurat! Jutaan Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan, Pasien Cuci Darah Terpaksa Berjuang Sendiri!

Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) mengungkapkan polemik serius terkait penonaktifan jutaan peserta BPJS Kesehatan kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI). Kebijakan ini memaksa sejumlah pasien cuci darah untuk beralih ke BPJS Mandiri agar bisa terus mendapatkan perawatan vital.

Sekretaris Jenderal KPCDI, Petrus Hariyanto, menyatakan bahwa pasien-pasien ini bisa melanjutkan cuci darah bukan karena kebijakan pemerintah mengaktifkan kembali PBI mereka, melainkan karena keputusan cepat mereka untuk pindah ke skema mandiri. Ia menambahkan, penonaktifan massal ini bahkan sempat menunda perawatan cuci darah bagi beberapa pasien hingga seminggu penuh.

Keterlambatan perawatan ini berdampak fatal, menyebabkan pasien mengalami sesak napas, uremik (kadar ureum tinggi), badan lemas, tensi meningkat, dan kesulitan makan. Petrus khawatir, penundaan yang terjadi minggu ini bisa berakibat fatal, meskipun belum ada laporan kematian.

KPCDI sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang dinilai ‘sembrono’ ini, terutama karena tidak melibatkan pihak yang memahami kondisi pasien secara utuh, seperti KPCDI. Mereka menilai kebijakan ini melanggar prinsip hak atas kesehatan, tata kelola data yang baik, dan etika kebijakan publik, tanpa adanya mekanisme pengaman atau masa tenggang bagi pasien kronis.

Petrus mendesak pemerintah untuk segera menghentikan praktik penonaktifan sepihak bagi pasien kronis. KPCDI juga menyerukan penetapan status ‘protected chronic patient’ dan memastikan layanan medis didahulukan sebelum verifikasi administrasi. “Negara boleh memperbaiki data, tetapi tidak boleh memperbaiki data dengan mengorbankan nyawa,” tegasnya.

Sebelumnya, DPR dan pemerintah telah menyepakati bahwa semua layanan kesehatan, termasuk BPJS PBI, akan tetap dilayani dan dibayarkan oleh pemerintah dalam jangka waktu tiga bulan ke depan. Meskipun data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dari sekitar 200 ribu pasien cuci darah di Indonesia, hanya 12.262 yang dikeluarkan dari PBI, risiko kematian tetap sangat tinggi jika layanan kesehatan mereka terganggu.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *