AWAS! Siklon Tropis Penha Mengintai Indonesia, BMKG Ungkap Dampak Mengerikan di Berbagai Wilayah!

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan perkembangan signifikan dari Bibit Siklon Tropis 94W yang kini telah meningkat intensitasnya menjadi Siklon Tropis Penha. Fenomena alam ini terdeteksi mencapai kategori siklon tropis pada tanggal 4 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, dengan posisi terkini berada di Laut Filipina, sebelah utara Maluku Utara.

Menurut BMKG, Siklon Tropis Penha diperkirakan akan tetap berada dalam kategori 1 selama 24 jam ke depan, bergerak ke arah barat dan menjauhi wilayah Indonesia. Meskipun demikian, siklon ini berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung yang patut diwaspadai di beberapa daerah di Tanah Air.

Dampak tidak langsung tersebut meliputi potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Selain itu, Siklon Tropis Penha juga diprediksi akan memicu angin kencang di Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan pelayaran.

Di sektor maritim, ancaman gelombang tinggi menjadi perhatian utama. Penha diperkirakan akan menyebabkan gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua, Perairan Kepulauan Sangihe, dan Laut Sulawesi bagian timur. Kondisi yang lebih ekstrem diprediksi terjadi di Perairan Kepulauan Talaud dan Samudra Pasifik utara Maluku, dengan potensi gelombang mencapai 2,5-4 meter.

Selain Siklon Tropis Penha, BMKG juga melaporkan bahwa Bibit Siklon Tropis 98P masih aktif. Bibit siklon yang terbentuk sejak 29 Januari 2026 pukul 13.00 WIB ini saat ini berada di sekitar daratan utara Australia bagian Barat Laut. Bibit siklon 98P berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat serta angin kencang di Nusa Tenggara Timur.

Dampak maritim dari Bibit Siklon 98P juga perlu diantisipasi, dengan potensi gelombang laut setinggi 1,25-2,5 meter di Laut Sawu, Perairan Kepulauan Leti hingga Kepulauan Sermata, Perairan Kepulauan Babar hingga Tanimbar, Perairan Kepulauan Kai hingga Kepulauan Aru, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Arafuru bagian barat.

BMKG secara tegas mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, dan operator pelayaran di wilayah yang terdampak untuk senantiasa waspada terhadap potensi gelombang tinggi dan kondisi perairan yang berbahaya guna menghindari insiden yang tidak diinginkan.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *