Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius mengenai Bibit Siklon Tropis 98P. Bibit ini memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam kurun waktu 24 hingga 72 jam mendatang.
Berdasarkan analisis BMKG pada Jumat (6/2), Bibit Siklon Tropis 98P, yang pertama kali terbentuk pada 29 Januari 2026, saat ini pusat sirkulasinya berada di sekitar perairan barat Australia, tepatnya pada 17.8°LS 121.9°BT. Kecepatan angin maksimum yang terpantau mencapai 30 knot atau sekitar 55 km/jam, dengan tekanan udara minimum 997 hPa.
Analisis citra satelit Himawari menunjukkan bahwa aktivitas konvektif dari bibit siklon ini fluktuatif namun cenderung menguat, dengan perluasan area awan tebal dan konveksi dalam yang semakin terorganisir. Kondisi lingkungan seperti aktifnya gelombang Low Frequency, kelembapan udara tinggi, suplai angin, dan vortisitas yang mendukung di setiap lapisan udara memicu pertumbuhan bibit ini.
BMKG memprediksi, dalam 24 jam ke depan, intensitas Bibit 98P akan meningkat menjadi siklon tropis kategori 1, dengan kecepatan angin antara 35-40 knot. Pergerakannya diperkirakan perlahan ke arah barat-barat daya, memasuki wilayah pesisir barat Australia. Dalam 48 jam, sistem ini diprediksi akan terus menguat hingga mencapai kategori 2, bergerak ke arah barat daya.
Dampak tidak langsung dari Bibit 98P diperkirakan akan memengaruhi sejumlah wilayah hingga Sabtu (7/2). Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat serta angin kencang. Selain itu, potensi gelombang setinggi 1,25-2,5 meter diprakirakan terjadi di Laut Sawu dan Samudra Hindia selatan NTT.
Secara terpisah, Siklon Tropis Penha yang berkembang dari bibit 94W saat ini berada di Laut Bohol, Filipina, dengan kekuatan 35 knot (sekitar 65 km/jam) dan tekanan 1004 hPa. BMKG memperkirakan intensitas Siklon Tropis Penha akan menurun menjadi kategori Tropical Depression (Low) dalam 24 jam ke depan, bergerak menjauhi wilayah Indonesia.
Meskipun intensitasnya menurun, Siklon Tropis Penha masih berpotensi menyebabkan hujan intensitas sedang hingga lebat di Sulawesi Utara dan Gorontalo, serta angin kencang di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Potensi gelombang tinggi juga diwaspadai, dengan ketinggian 1,25-2,5 meter di Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya hingga Papua, Perairan Kepulauan Sangihe, dan Laut Sulawesi bagian timur. Bahkan, gelombang setinggi 2,5-4 meter diprediksi terjadi di Samudra Pasifik Utara Maluku.







