Terungkap! Berapa Hari Sebenarnya Durasi Ramadhan 2026?

Durasi bulan Ramadhan umumnya berjumlah 30 hari, namun terkadang bisa berjumlah 29 hari, tergantung pada kemunculan hilal. Lantas, berapa hari sebenarnya jumlah hari dalam bulan Ramadhan tahun 2026?

Hingga saat ini, awal bulan Ramadhan versi pemerintah belum ditentukan, begitu pula awal bulan Syawal yang akan menentukan durasi Ramadhan tahun ini. Sidang Isbat untuk penentuan awal Ramadhan dijadwalkan akan digelar pada Selasa (17/2), sementara Sidang Isbat untuk awal bulan Syawal akan digelar pada pertengahan Maret. Dengan demikian, jumlah hari puasa pada Ramadhan ini versi pemerintah masih belum diketahui.

Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah akan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini ditetapkan berdasarkan hisab hakiki Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah yang berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebagaimana tercantum dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Pengumuman awal Ramadhan ini oleh PP Muhammadiyah telah dilakukan sejak Oktober 2025.

Berdasarkan perhitungan astronomis, ijtimak jelang Ramadhan diperkirakan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 UTC. Saat matahari terbenam pada hari itu, kriteria visibilitas hilal belum terpenuhi di wilayah mana pun. Namun, perhitungan menunjukkan bahwa setelah tengah malam UTC, ada wilayah di daratan Amerika yang telah memenuhi syarat munculnya hilal.

“Dengan demikian, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 dan berlaku serentak secara global,” demikian dikutip dari situs resmi Muhammadiyah. Dalam Maklumat tersebut, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah juga telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah, yakni pada 20 Maret 2026. Oleh karena itu, durasi puasa pada tahun ini bagi yang mengikuti perhitungan Muhammadiyah akan berjumlah genap 30 hari.

Potensi perbedaan dalam penentuan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau awal bulan puasa 2026 juga diperkirakan. Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyatakan bahwa perbedaan acuan kriteria hilal berpotensi membuat awal Ramadhan terbagi menjadi dua tanggal, yaitu 18 Februari dan 19 Februari.

Menurut Thomas, posisi hilal saat waktu maghrib 17 Februari belum memenuhi kriteria MABIMS yang digunakan pemerintah untuk menentukan awal bulan hijriah. Pada waktu tersebut, posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. “Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam,” kata Thomas. Ia menambahkan, “Ini (kriteria yang terpenuhi) di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria, sehingga 1 Ramadhan 1447 jatuh pada tanggal 19 Februari 2026.”

Meski demikian, Thomas menyebutkan ada juga ormas Islam yang menggunakan kriteria Turki, di mana pada saat yang sama, di wilayah Amerika, sudah terpenuhi tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat. Di wilayah Alaska, kata Thomas, posisi hilal sudah memenuhi kriteria Turki. Dengan demikian, 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada tanggal 18 Februari 2026. “Jadi, ada potensi perbedaan Awal Ramadhan, ada yang 19 Februari, dan ada yang 18 Februari,” pungkasnya.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *