Prediksi bahwa smartphone akan segera punah dan digantikan oleh perangkat lain semakin menguat di kalangan raksasa teknologi global. Kacamata pintar atau smart glasses diposisikan sebagai kandidat utama, siap mengambil alih peran komputasi generasi berikutnya.
Para pemimpin industri seperti CEO Meta Mark Zuckerberg dan Elon Musk telah lama meramalkan akhir dari era telepon genggam konvensional. Zuckerberg, dalam acara Meta Connect 2024, memprediksi bahwa miliaran orang yang saat ini memakai kacamata biasa akan beralih ke kacamata pintar dalam dekade mendatang, mirip dengan transisi besar-besaran dari telepon seluler biasa ke smartphone.
Tahun 2026 disebut-sebut sebagai tahun penting bagi kebangkitan kacamata pintar. Perangkat wearable ini dianggap mampu menghadirkan interaksi yang lebih natural dengan kecerdasan buatan (AI) serta memungkinkan akses informasi tanpa perlu menggenggam layar ponsel.
Namun, CEO Rokid Misa Zhu, dalam wawancaranya, mengungkapkan tantangan fundamental yang harus dipecahkan agar kacamata pintar bisa diterima luas, yang ia sebut sebagai “segitiga mustahil”: kualitas tampilan, daya tahan baterai, dan kenyamanan pemakaian. Zhu memprediksi terobosan signifikan pada ketiga aspek ini baru akan tercapai dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Jika tantangan tersebut teratasi, kacamata pintar dapat berfungsi sebagai layar besar fleksibel, asisten AI yang selalu aktif, sekaligus tetap nyaman digunakan seperti kacamata biasa. Meskipun demikian, Zhu berpendapat bahwa kacamata pintar belum akan sepenuhnya menggantikan smartphone dalam waktu dekat; mereka masih akan berfungsi sebagai aksesori dalam tiga tahun ke depan, namun posisinya berpotensi berubah drastis setelah itu.
Langkah menuju era pasca-smartphone mulai terlihat dengan hadirnya produk komersial. Rokid, perusahaan asal China, telah meluncurkan AI Glasses Style di pasar Amerika Serikat dan Jerman. Kacamata ini dibekali baterai 210mAh, bobot 38,5 gram, kamera 12 megapiksel, serta speaker dan mikrofon terintegrasi. AI Glasses Style juga dilengkapi ChatGPT 5.2 dan Microsoft Translator, dipasarkan dengan harga sekitar US$299.
Tidak mau ketinggalan, raksasa teknologi China Alibaba juga akan memasuki pasar kacamata pintar dengan Quark AI Glasses yang dijadwalkan meluncur akhir 2025. Perangkat ini akan ditenagai model bahasa besar Qwen dan asisten AI bernama Quark, memungkinkan pengguna melakukan panggilan tanpa tangan, streaming musik, terjemahan real-time, hingga transkripsi rapat. Kacamata ini juga terintegrasi dengan ekosistem layanan Alibaba seperti navigasi, pembayaran Alipay, dan belanja Taobao.
Masuknya Alibaba memperketat persaingan yang sudah ada dengan Meta (melalui Ray-Ban) dan produsen China lainnya seperti Xiaomi. Google dan Samsung pun dikabarkan akan segera meluncurkan kacamata pintar mereka sendiri. Dengan semakin banyaknya pemain besar yang terjun ke kategori ini, sinyal pergeseran dari era smartphone ke perangkat wearable kian jelas. Kacamata pintar memang belum sepenuhnya menggantikan ponsel pintar, tetapi teknologi penggantinya perlahan mulai mengambil bentuk yang konkret.







