Jakarta, CNN Indonesia — Meskipun digadang-gadang membawa desain paling ramping dan diklaim sebagai perubahan besar, iPhone Air ternyata belum mampu merebut hati pasar. Ponsel terbaru dari Apple ini, yang pertama kali diluncurkan pada September 2025 bersamaan dengan seri iPhone 17, kini menghadapi kenyataan pahit.
Data riset terbaru secara jelas menunjukkan bahwa adopsi iPhone Air jauh tertinggal dibandingkan saudaranya, yakni iPhone 17, 17 Pro, dan 17 Pro Max. Survei Consumer Intelligence Research Partners mengungkapkan bahwa hanya 6 persen pembeli iPhone di Amerika Serikat yang memilih iPhone Air selama kuartal pertama ketersediaannya penuh, yaitu hingga Desember 2025. Angka ini sangat kontras dengan iPhone 17 reguler yang dibeli oleh 22 persen konsumen, iPhone 17 Pro oleh 25 persen, dan iPhone 17 Pro Max yang lebih mahal oleh 27 persen.
Melansir CNN pada Rabu (28/1), beberapa analis berpendapat bahwa iPhone Air memang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi produk bestseller. Sebaliknya, ponsel ini dirancang sebagai variasi pilihan bagi konsumen dan untuk membuka jalan bagi inovasi iPhone di masa depan, seperti model lipat. Namun, penerimaan yang kurang memuaskan ini tetap memunculkan pertanyaan besar mengenai strategi Apple untuk mengembangkan jajaran produknya di luar model standar iPhone, iPhone Pro, dan iPhone Pro Max.
Apple sendiri memilih bungkam dan tidak menanggapi permintaan komentar terkait performa penjualan iPhone Air, rencana peluncuran produk di masa depan, atau potensi perubahan pada rencana produksinya.
Data terbaru dari CIRP semakin mempertegas jurang minat konsumen antara iPhone Air dan model iPhone terbaru Apple lainnya. Laporan ini didasarkan pada survei terhadap 500 konsumen di Amerika Serikat yang melakukan pembelian produk Apple antara Oktober dan Desember 2025, dengan survei dilakukan antara 2 hingga 21 Januari.
Ini bukan kali pertama iPhone Air mengalami perlambatan permintaan. Sebelumnya pada November, The Information melaporkan bahwa Apple telah menunda peluncuran model generasi kedua setelah penjualan tidak memenuhi ekspektasi. Bahkan, Nikkei Asian Review juga mengungkapkan bahwa Apple memangkas produksi iPhone Air pada musim gugur lalu, sembari meningkatkan pesanan untuk model iPhone lainnya.
Josh Lowitz, salah satu analis CIRP yang terlibat dalam studi tersebut, menyoroti alasan sederhana di balik kurangnya minat konsumen terhadap iPhone Air: “Orang-orang tidak peduli dengan ponsel tipis.” Ia menambahkan bahwa sebagian besar responden yang membeli iPhone Air melakukannya karena mereka mengganti ponsel lama, bukan karena fitur ketipisannya.
Carolina Milanesi, presiden dan analis utama dari Creative Strategies, sependapat. “Konsumen tidak masuk ke toko sambil berkata, ‘Ya ampun, saya berharap ini lebih ringan’. Kita sudah terbiasa membawa apa yang kita bawa. Jadi, itu bukan masalah secara khusus,” jelas Milanesi.
Apple tampaknya kesulitan menciptakan model iPhone keempat yang benar-benar diminati. Perusahaan sebelumnya mencoba dengan versi yang lebih kecil (iPhone Mini) dan lebih besar (iPhone Plus) dari iPhone standar, namun keduanya dihentikan produksinya karena permintaan yang dilaporkan lemah.
iPhone Air sendiri tidak unggul di kategori mana pun kecuali ketipisannya. iPhone 17 Pro Max menawarkan layar terbesar dan daya tahan baterai terlama, serta kamera tiga lensa. iPhone 17 Pro, meskipun lebih murah dan kecil dari Pro Max, memiliki banyak fitur serupa. Sementara itu, iPhone 17 reguler adalah yang paling terjangkau, namun tetap menawarkan kamera tambahan dan daya tahan baterai yang lebih baik dari Air. Meskipun demikian, ponsel Apple yang lebih tipis ini memang memiliki layar yang lebih besar dan chip yang lebih bertenaga.
“Model 17 Pro, Pro Max, dan model dasar 17 mencakup banyak fitur, dan mereka seolah-olah menguras semua perhatian,” pungkas analis CIRP Michael Levin. Ini menggambarkan bagaimana iPhone Air, dengan fokusnya pada ketipisan, gagal bersaing di pasar yang lebih menghargai fitur fungsional dan performa.







