Cirebon – Perekonomian Provinsi Jawa Barat (Jabar) menunjukkan kinerja yang impresif selama setahun terakhir, dengan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) mencapai 5,85 persen year on year (yoy). Angka ini bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,39 persen. Demikian disampaikan oleh Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman di Cirebon.
Kuatnya pertumbuhan ekonomi Jabar ini didorong oleh berbagai pilar utama, meliputi belanja pemerintah, investasi yang masif, tingginya konsumsi masyarakat, serta kinerja ekspor dan impor yang positif. Realisasi penanaman modal di Jabar tercatat mencapai angka fantastis Rp296,8 triliun, menjadikannya yang tertinggi di Indonesia, dengan kontribusi sekitar 30 persen terhadap keseluruhan pertumbuhan ekonomi Jabar.
Dari sektor perdagangan luar negeri, Jabar mencatatkan surplus yang signifikan sebesar 24 miliar dolar AS. Nilai ekspor Jabar berhasil menembus 34 miliar dolar AS, sementara impor berada di kisaran 10 miliar dolar AS. Kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar diperkirakan mencapai 10 persen.
Selain pencapaian ekonomi makro, perbaikan juga terlihat pada indikator sosial. Angka kemiskinan di Jabar berhasil ditekan, dari 7,02 persen menjadi 6,78 persen. Demikian pula dengan angka pengangguran yang menurun dari 6,77 persen menjadi 6,66 persen dalam periode satu tahun terakhir. Data ini mengindikasikan adanya peningkatan kondisi sosial dan kesejahteraan masyarakat Jabar.
Dari sisi fiskal, kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jabar yang sebesar Rp32 triliun telah dibelanjakan secara optimal dan berkontribusi sekitar 10 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Kontribusi ini diperkuat lagi dengan belanja APBD kabupaten/kota yang secara total mencapai Rp115 triliun.
“Tidak ada anggaran yang tidak termanfaatkan. Fungsi APBD adalah mendorong perekonomian daerah dan menyejahterakan masyarakat,” tegas Herman, menekankan pentingnya efektivitas belanja publik.







