Pakar: Modifikasi Cuaca Hanya Solusi Jangka Pendek Bencana

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi curah hujan, meskipun penting sebagai mitigasi bencana, bukanlah solusi permanen. Ia menyebut langkah ini memiliki batasan dan hanya bisa dilakukan dalam kondisi tertentu, serta tidak mengatasi penyebab utama bencana hidrometeorologi.

“Modifikasi cuaca itu penting sebagai salah satu usaha mitigasi, tetapi harus digarisbawahi bahwa ini bukan solusi permanen. Ia tidak menyelesaikan penyebab utama bencana hidrometeorologi,” ujar Sonni dalam keterangannya pada Rabu (4/2). Menurutnya, solusi ini hanya bersifat jangka pendek dan tidak menyentuh akar persoalan.

Keterbatasan dan Efektivitas Modifikasi Cuaca

Sonni menjelaskan bahwa efektivitas modifikasi cuaca sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Teknik ini hanya bisa diterapkan jika tersedia awan dengan karakteristik tertentu. Jika kondisi cuaca banyak awan, modifikasi dilakukan dengan menggabungkan awan-awan berdekatan untuk mempercepat proses presipitasi atau hujan.

“Kalau kondisi atmosfernya tidak mendukung, modifikasi cuaca otomatis menjadi tidak efektif. Jadi tidak bisa dipaksakan,” tegasnya. Selain itu, meskipun kondisi cuaca mendukung, dampak modifikasi cuaca bersifat lokal dan terbatas pada wilayah tertentu, menjadi masalah serius jika diterapkan untuk area yang sangat luas.

“Untuk wilayah yang cukup besar, modifikasi cuaca tidak efektif. Kalau tetap dipaksakan, itu hanya akan menjadi pemborosan anggaran atau sekadar menghambur-hamburkan dana,” terangnya.

Mendorong Solusi Jangka Panjang

Sonni lebih lanjut mengimbau agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada modifikasi cuaca. Ketergantungan berlebihan berisiko mengaburkan persoalan mendasar yang menjadi pemicu utama bencana hidrometeorologi, seperti perubahan tata guna lahan, kerusakan daerah aliran sungai, deforestasi, hingga tata kelola lingkungan yang buruk.

“Selama esensi masalahnya tidak diselesaikan, modifikasi cuaca akan terus menjadi tidak efektif. Ini hanya penanganan gejala, bukan penyakitnya,” katanya.

Ia mendorong kebijakan mitigasi bencana agar tidak berhenti pada solusi instan, melainkan diarahkan pada pendekatan jangka panjang dan sistemik. Pendekatan ini harus berbasis perbaikan lingkungan, perencanaan wilayah yang matang, serta penguatan kapasitas adaptasi masyarakat.

“Modifikasi cuaca boleh dilakukan, tetapi harus ditempatkan secara proporsional dan berbasis sains. Jangan sampai solusi cepat justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang jauh lebih besar,” pungkas Sonni.

Share this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *