Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama sejumlah pihak telah mengungkap jejak Sesar Cisadane yang membentang di wilayah Jabodetabek. Sesar ini, yang disebut-sebut sebagai ‘pembelah gunung’, merupakan salah satu sesar yang mengelilingi Jakarta, selain Sesar Baribis dan Sesar Citarik, dan menyimpan jejak tektonik yang signifikan.
Untuk meneliti lebih lanjut, ekspedisi lapangan dilakukan oleh Badan Geologi, Badan Informasi Geospasial, BPBD Kabupaten Bogor, dan PT Oseanland ke Gunung Nyungcung di daerah Rumpin, Kabupaten Bogor. Bukit setinggi 240 meter di atas permukaan laut ini merekam jejak Sesar Cisadane yang mungkin masih asing di telinga warga Jabodetabek.
Para peneliti memaparkan hasil penyelidikan menggunakan berbagai metode, termasuk data gaya berat, data seismik untuk mengamati bawah permukaan, metode geologi untuk pengamatan di permukaan, hingga metode langitan dengan drone berbekal sensor LiDAR. Kombinasi data dari VTOL LiDAR dan SLAM LiDAR memungkinkan interpretasi geologi yang lebih komprehensif.
Dari berbagai metode tersebut, terungkap adanya sesar mendatar dengan arah relatif barat laut-tenggara. Karena posisinya mengikuti aliran Sungai Cisadane, patahan ini kemudian diberi nama Sesar Cisadane. Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu digunakan sebagai acuan awal dalam mencari bukti keberadaan sesar ini.
Wilayah di sekitar Gunung Nyungcung tersusun dari batuan pasir gampingan, mengindikasikan bahwa gunung ini dulunya adalah dasar laut yang terangkat. Batuan terangkat ini dan kemunculan Gunung Nyungcung juga menjadi indikasi adanya sesar naik, dengan pola sejajar Gunung Panjang di sisi timur. Kedua gunung ini diperkirakan saling terhubung di masa lalu, sebelum terpisahkan oleh Sungai Cisadane akibat faktor tektonik, yaitu Sesar Cisadane.
Sesar ini diperkirakan memanjang dari Bogor hingga pesisir Tangerang dan diduga berpotensi aktif, seperti terekam pada penampang seismik. Ekspedisi juga dilanjutkan ke Gunung Panjang, di mana peneliti menemukan bukti bahwa wilayah tersebut dulunya laut dangkal yang terangkat oleh aktivitas tektonik, diperkuat dengan temuan fosil moluska.
Rekahan memanjang berarah barat laut-tenggara yang terekam di puncak Gunung Panjang menjadi jejak Sesar Cisadane. Rekahan ini mengarah ke wilayah Tangerang Selatan dan diperkirakan memotong batuan kuarter atau batuan muda. Fenomena bentang alam kubah memanjang di atas sesar di Gunung Panjang, serta kemunculan mata air panas dari celah rekahan, menjadi bukti nyata keberadaan pola Sesar Cisadane.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa Sesar Cisadane adalah sesar tua yang terbentuk sekitar 5 juta tahun lalu. Meskipun demikian, keberadaan deretan rawa alami (sag pond) searah retakan di Gunung Panjang yang memotong batuan Kuarter (sekitar 2 juta tahun lalu) menunjukkan perlunya kewaspadaan bagi warga di sekitar lintasan sesar tersebut.
Meskipun statusnya berpotensi aktif, masyarakat diimbau untuk tidak panik. Warga diminta tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari petugas BPBD setempat, serta tidak terpancing oleh isu tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami. Selain itu, bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi.







