Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, memberikan tanggapan tegas terkait arah pembangunan di Gunungkidul. Sultan menekankan bahwa Yogyakarta, khususnya Gunungkidul, tidak perlu dibandingkan apalagi meniru model pembangunan seperti Bali. Pernyataan ini datang sebagai respons atas seruan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY, GKR Mangkubumi, yang sebelumnya mengingatkan untuk mempertahankan identitas khas Jogja.
Sultan HB X menjelaskan perbedaan mendasar antara Jogja dan Bali terletak pada kultur atau budayanya. “Kita tidak usah diperbandingkan dengan Bali. Kan memang beda Jogja sama Bali,” kata Ngarsa Dalem, menegaskan pentingnya melestarikan dan memegang teguh kebudayaan Jogja. Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai kota wisata, Sultan menegaskan bahwa karakteristik masyarakatnya berbeda, sehingga ia berpendapat, “Jogja ya untuk Jogja sendiri.”
Mengenai investasi, Sultan mempersilakan investor untuk menanamkan modal di DIY tanpa memberikan batasan spesifik apakah harus di sektor pariwisata atau tidak, menyerahkan sepenuhnya kepada pilihan investor.
Sebelumnya, GKR Mangkubumi dalam Musyawarah Kabupaten Kadin Gunungkidul di Wonosari telah mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyebut banyak investor menyampaikan niat pembangunan di Gunungkidul yang menyerupai Bali. Oleh karena itu, Mangkubumi mengingatkan pengurus Kadin Gunungkidul untuk menjaga identitas daerah, mematuhi aturan tata ruang seperti sempadan pantai, serta memilih industri yang ramah lingkungan dan tidak merusak alam. “Dan saya selalu menyampaikan, kita adalah Jogja, bukan Bali,” tegas Mangkubumi, menekankan bahwa derasnya investasi harus tetap selaras dengan visi misi daerah.







